Serius! Ibrahimovic Hampir Gabung Bologna, Kok Bisa?

loading...
Serius! Ibrahimovic Hampir Gabung Bologna, Kok Bisa?
Zlatan Ibrahimovic dan Sinisa Mihajlovic./foto/ocdn.eu


BOLOGNA - Sepanjang kariernya, Zlatan Ibrahimovic selalu memperkuat tim besar di setiap kompetisi yang diikuti. Mulai dari Ajax Amsterdam, Barcelona, Inter Milan, AC Milan, Juventus, Paris Saint Germain (PSG), Manchester United (MU), sampai LA Galaxy di Major Super League (MLS) Amerika Serikat.

Tapi, dia ternyata pernah terbersit untuk memperkuat tim gurem sekelas Bologna hanya karena faktor keberadaan satu orang. dia adalah Sinisa Mihajlovic. “Saya pikir Sinisa adalah orang yang hebat, saya cukup beruntung mengenalnya sebagai pribadi,” kata striker Milan itu kepada La Gazzetta dello Sportsaat peluncuran buku 'La partita della vita', biografi Mihajlovic.

Padahal, dia mengaku awalnya tidak menyukai Mihajlovic. Pun denganMihajlovic yang tidak menyukai Ibrahimovic. Sampai-sampai Mihajlovic mengaku pernah ingin "membunuh" Ibra, "Tetapi ketika saya mengenalnya di Inter, itu adalah cinta sejak hari pertama. Saya biasa berkata: 'Jika saya pergi berperang, Sinisa akan berada di baris pertama, saya di baris kedua," tandas pemain asal Prancis itu.



Kedekatan itu membuat dia pernah menyatakan kepada Mihajlovic apa yang bisa dilakukan untuk membantunya, maka dengan senang hati dia akan melakukan segalanya. Mihajlovic, tambah Ibra, kemudian melakukan semua yang dia bisa agar bisa membawa dirinya ke Bologna, dia menggunakan kata-kata yang tepat. (Baca Juga: Preview Napoli vs AC Milan: Menentukan Puncak Klasemen)

"Tapi saya jujur padanya, saya tidak berlari seperti dulu. Mihajlovic mengatakan saya hanya perlu menunggu di depan dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan bergabung dengan Bologna secara gratis hanya untuknya, kemudian Milan tiba," tambah penyerang berusia 39 tahun tersebut.

Sampai sekarang,keinginan mendatangkan Ibra ke Bologna belum teralisasi. Meski begitu, Ibra tetap menaruh respek besar pada Mihajlovic.Dia mengatakan,Mihajlovic adalahseorang lebih hebat dari dirinya. Pernyataan ini mengacu bagaimana perjuangan pelatih berusia 51 tahun lalu melawan leukemia dan kemudian bisa kembali beraktivitas sebagai pelatih.
(ruf)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top