Bergulirnya Seri A Ibarat Sinar di Ujung Terowongan

Rabu, 03 Juni 2020 - 11:30 WIB
loading...
Bergulirnya Seri A Ibarat Sinar di Ujung Terowongan
Kapten Sassuolo Francesco Caputo menyebut kembalinya Seri A ibarat sinar di ujung terowongan. Foto/Istimewa
A A A
SASSUOLO - Kapten Sassuolo Francesco Caputo memberi deskripsi yang paling pas untuk menggambarkan segera bergulirnya Seri A setelah membeku dihantam pandemi corona. Caputo menyebut kembalinya Seri A ibarat sinar di ujung terowongan.

Mereka yang mengikuti bagaimana tarik ulur antara klub, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), dan pemerintah tentu merasa lega akhirnya ada kesepakatan untuk digulirkannya kembali ke Seri A. Sebelum ada kepastian, kisah Seri A, seperti antara jadi atau tidak jadi.

Kubu pemerintah melalui Menteri Olahraga Vincenzo Spadafora bersikukuh dengan protokol yang mereka buat berdasarkan kajian dari ahli pandemi, termasuk permintaan harus karantina untuk semua anggota tim jika ada satu kasus Covid-19. Protokol ini yang dianggap menghambat tim.

Logikanya, bagaimana bisa menjalani laga jika seluruh tim harus menjalani karantina 14 hari, sedangkan jadwal berlangsung tiga hari sekali. Klub dan FIGC ngotot meminta agar hanya yang terpapar korona yang menjadi karantina. (Baca: Di Tengah Pandemi Corona, Klub Seri A Hellas Verona Ganti Logo)

Kini, setelah ada kepastian, semua tentu bisa bernapas lega. "Melihat jadwal setelah periode yang panjang dan sulit, ini seperti sinar cahaya di ujung terowongan. Meskipun tentu tidak akan mudah, kita tahu itu," kata Caputo, kepada situs resmi klubnya.

Dia mengakui melanjutkan musim bukan pekerjaan mudah. Selain tetap harus menjalani protokol kesehatan yang belum pernah dilakukan sebelumnya, para pemain juga bermain di iklim yang berbeda. Maksud iklim berbeda, karena pada Juni dan Juli, suhu dan kelembapan di Eropa rata-rata mengalami peningkatan.

Selain itu, pemain juga harus menjalani jadwal padat karena bermain sepekan tiga kali. “Tidak ada di antara kami yang terbiasa bermain tiga pertandingan sepekan ditambah lagi kami bermain panas. Tapi, kami akan berusaha tidak memikirkannya. Ada hal positif dan keinginan besar untuk kembali ke lapangan dan menyelesaikan musim dengan kuat," tandasnya.

Presiden Lazio Claudio Lotito memilih menggambarkan kembalinya Seri A sebagai kemenangan sepak bola. Saat Lazio kini bersaing ketat dalam perebutan gelar Seri A, digulirkannya kembali kompetisi tertinggi Italia membuat persaingan menjadi semakin terbuka.

Mereka kini memiliki peluang mengejar Juventus yang berada di puncak klasemen. “Ini untuk sepak bola Italia. Saya yakin dengan restart ini, sepak bola kami akan mampu mempertahankan standar kualitas tinggi yang diakui di seluruh dunia. Seri A adalah salah satu liga paling penting dalam olahraga," kata Lotito, akhir bulan lalu.

Namun, ada juga yang menganggap kembalinya sepak bola justru menjadi bukti kemenangan pemilik modal. Alasannya, di tengah situasi beberapa negara belum sepenuhnya bebas pandemi korona, sepak bola tetap menggelar hajatan dengan melibatkan ratusan orang dalam satu periode tertentu. Ratusan, karena pengelola masih mengizinkan setidaknya 300 orang berada di dalam dan luar area stadion.

Pengelola dan penyelenggara juga rela mengeluarkan dana ratusan euro untuk mengikuti protokol menggelar tes Covid-19 dua kali satu pekan saat masyarakat kebanyakan kesulitan mendapatkan akses untuk menjalani tes tersebut. (Baca juga: Seri A Dilanjutkan Lagi, Juragan Brescia Malah Mencak-Mencak)

Tapi, sepak bola tetap digulirkan karena beberapa klub dan pengelola terancam kehilangan pendapatan dari pihak ketiga, sponsor, dan hak siar yang nilai ratusan ribu poundsterling. Kritik keras itu disampaikan Pelatih Timnas Prancis Didier Deschamps.

Menurut dia, pertimbangan ekonomi lebih berpengaruh dibandingkan sekadar sepak bola. Sebagai contoh, beberapa federasi yang memutuskan menghentikan liga amatir dan sepak bola wanita. “Lihatlah keputusan yang dibuat di Spanyol dan Inggris. Kedua negara sepak bola utama ini merencanakan dimulainya kembali Primera Liga dan Liga Primer, tapi memutuskan tidak melanjutkan kejuaraan perempuan yang menghasilkan pendapatan jauh lebih sedikit. Itu mengatakan segalanya," tutur Deschamps. (Ligat Videonya: Jelang New Normal, Penumpang KRL Dilarang Mengobrol)

Dia juga melihat inkonsistensi dari pelaku sepak bola. Seperti saat selebrasi di mana tetap ada pemain yang melakukan selebrasi bersama rekan-rekannya, padahal jelas ada larangan atas tindakan itu. “Hidup kembali dengan banyak batasan di semua bidang. Dalam sepak bola, dimulainya kembali liga tertentu jelas merespons yang pertama terhadap masalah ekonomi,” tandasnya. (Maruf)
(ysw)
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright ©2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.1004 seconds (0.1#10.140)