Pemerintah Jamin Nasib Persebaya Aman di Kongres PSSI
Kamis, 10 November 2016 - 11:51 WIB
Pemerintah Jamin Nasib Persebaya Aman di Kongres PSSI
A
A
A
JAKARTA - Salah satu agenda penting dalam Kongres PSSI 2016 di Hotel Mercure, Kamis (10/11/2016) adalah membahas hak keanggotaan klub yang sempat 'terdepak' dari PSSI sejak 2013. Pemerintah sebagai mediator, menekankan kepada Bonek -sebutan fans Persebaya- agar tidak menggeruduk arena Kongres.
Deputi IV Menpora Gatot S Dewa Broto mengatakan, nasib Persebaya pasti akan dibahas dalam kongres. Ia mengacu pada janji Pelaksana Tugas Ketua Umum (Plt) PSSI Hinca Pandjaitan yang mengatakan dalam pembukaan Kongres Luar Biasa 3 Agustus lalu, di mana nasib Persebaya akan masuk agenda.
"Kemarin kami bersama Sekjen PSSI Azwan Karim dan EXCO Tony Apriliani, difasilitasi Kepolisian, sudah bicara dengan Andi Pecie perwakilan Bonek. Intinya adalah tidak perlu khawatir akan nasib Persebaya sebab pada pembukaan Kongres 3 Agustus lalu, Pak Hinca sudah mengatakan PSSI siap membuka pintu pada pihak yang bersebrangan," ucap Gatot.
"Kita minta pada Bonek, gak usah geruduk kesini, percaya pada PSSI, semoga bisa dikembalikan haknya sebagai anggota penuh PSSI karena Pak Menteri menegaskan janji itu cukup penting dalam kongres ini," tegasnya.
Persebaya 1927 di bawah naungan PT. Persebaya Indonesia, tidak diakui lagi keanggotaannya sejak pecah dualisme PSSI dan KPSI 2013 lalu. Imbasnya, mereka tidak bisa tampil di kompetisi resmi di Indonesia hingga saat ini.
Adapun saat itu, PT Mitra Muda Inti Berlian yang menangkan hak nama dan logo Persebaya, yang kini berganti nama jadi Bhayangkara Surabaya United. Namun kini, saham klub tersebut sudah diakuisisi Kepolisian Republik Indonesia sebesar 90 persen.
Selain Persebaya, ada pula Persema Malang, Arema Indonesia, Persibo Bojonegoro, Persewangi Banyuwangi, Lampung FC, dan Persipasi Kota Bekasi. Sebagai bentuk perlawanan, enam klub tersebut membentuk Aliansi Klub Sepak Bola Indonesia (AKSI).
Kericuhan Suporter
Selain nasib Persebaya, pemerintah juga menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap suporter bandel. Seperti diketahui, sepak bola Indonesia kembali berduka atas tewasnya suporter The Jakmania yang sedang menggelar tur ke Solo untuk menyaksikan pertandingan Persija Jakarta vs Persib Bandung di Stadion Manahan, Minggu (6/11/2016).
Gatot secara khusus meminta PSSI tegas dalam membenahi kericuhan suporter. Namun pemerintah juga menyarankan, agar suporter yang positif mendapat apresiasi.
"Belum lama ini kita dikejutkan dengan jatuhnya korban suporter. Kita tidak mau hal ini terulang kembali. Terakhir sebelumnya pada 24 Juni lalu di Senayan ada konflik antara The Jak dengan Polisi, masa sih mau berulang," seru Gatot.
"Memang tanggung jawab suporter ada pada klub, tapi PSSI tidak boleh abai. Kami Pemerintah akan mendukung, andai PSSI menegakkan hukuman, artinya kalau klub atau suporter salah ya harus disanksi. Tapi kalau sebaliknya, ya harus diberi reward," tutupnya.
Deputi IV Menpora Gatot S Dewa Broto mengatakan, nasib Persebaya pasti akan dibahas dalam kongres. Ia mengacu pada janji Pelaksana Tugas Ketua Umum (Plt) PSSI Hinca Pandjaitan yang mengatakan dalam pembukaan Kongres Luar Biasa 3 Agustus lalu, di mana nasib Persebaya akan masuk agenda.
"Kemarin kami bersama Sekjen PSSI Azwan Karim dan EXCO Tony Apriliani, difasilitasi Kepolisian, sudah bicara dengan Andi Pecie perwakilan Bonek. Intinya adalah tidak perlu khawatir akan nasib Persebaya sebab pada pembukaan Kongres 3 Agustus lalu, Pak Hinca sudah mengatakan PSSI siap membuka pintu pada pihak yang bersebrangan," ucap Gatot.
"Kita minta pada Bonek, gak usah geruduk kesini, percaya pada PSSI, semoga bisa dikembalikan haknya sebagai anggota penuh PSSI karena Pak Menteri menegaskan janji itu cukup penting dalam kongres ini," tegasnya.
Persebaya 1927 di bawah naungan PT. Persebaya Indonesia, tidak diakui lagi keanggotaannya sejak pecah dualisme PSSI dan KPSI 2013 lalu. Imbasnya, mereka tidak bisa tampil di kompetisi resmi di Indonesia hingga saat ini.
Adapun saat itu, PT Mitra Muda Inti Berlian yang menangkan hak nama dan logo Persebaya, yang kini berganti nama jadi Bhayangkara Surabaya United. Namun kini, saham klub tersebut sudah diakuisisi Kepolisian Republik Indonesia sebesar 90 persen.
Selain Persebaya, ada pula Persema Malang, Arema Indonesia, Persibo Bojonegoro, Persewangi Banyuwangi, Lampung FC, dan Persipasi Kota Bekasi. Sebagai bentuk perlawanan, enam klub tersebut membentuk Aliansi Klub Sepak Bola Indonesia (AKSI).
Kericuhan Suporter
Selain nasib Persebaya, pemerintah juga menekankan pentingnya penegakan hukum terhadap suporter bandel. Seperti diketahui, sepak bola Indonesia kembali berduka atas tewasnya suporter The Jakmania yang sedang menggelar tur ke Solo untuk menyaksikan pertandingan Persija Jakarta vs Persib Bandung di Stadion Manahan, Minggu (6/11/2016).
Gatot secara khusus meminta PSSI tegas dalam membenahi kericuhan suporter. Namun pemerintah juga menyarankan, agar suporter yang positif mendapat apresiasi.
"Belum lama ini kita dikejutkan dengan jatuhnya korban suporter. Kita tidak mau hal ini terulang kembali. Terakhir sebelumnya pada 24 Juni lalu di Senayan ada konflik antara The Jak dengan Polisi, masa sih mau berulang," seru Gatot.
"Memang tanggung jawab suporter ada pada klub, tapi PSSI tidak boleh abai. Kami Pemerintah akan mendukung, andai PSSI menegakkan hukuman, artinya kalau klub atau suporter salah ya harus disanksi. Tapi kalau sebaliknya, ya harus diberi reward," tutupnya.
(bbk)