Lorenzo: Yamaha Memperlakukan Saya Seperti Karyawan Biasa
Kamis, 23 Maret 2017 - 12:33 WIB
Lorenzo: Yamaha Memperlakukan Saya Seperti Karyawan Biasa
A
A
A
LOSAIL - Jelang seri pembuka MotoGP 2017 di Sirkuit Losail, Qatar, akhir pekan ini. Motorsport berkesempatan mewawancarai langsung Jorge Lorenzo yang akan melakoni debut lomba bersama tim Ducati Corse. Berikut bagian pertama petikan wawancaranya.
Bagaimana peningkatan feeling pada Ducati sejak tes pertama di Valencia?
“Di Valencia, ada banyak hal berbeda yang membantu saya, yaitu winglet. Saya baru saja memenangi balapan terakhir dengan Yamaha. Saya dalam kondisi baik, ban Michelin terasa bagus dan layout trek tidak terlalu menuntut untuk mengerem. Semuanya berjalan baik.”
“Namun, saya sangat kesulitan di Sepang, bahkan pada hari pertama di trek yang mengejutkan saya. Lalu, saya memahami harus memacu Ducati dalam cara berbeda dibandingkan YZR-M1, sesuatu yang tidak saya duga. Di Australia, dua atau tiga pekan kemudian, saya mulai menggeber motor lagi dengan gaya Yamaha.”
“Setiap pembalap Ducati kesulitan di Phillip Island. Jika kami mengendarai motor lagi di Sepang, kami mungkin akan lebih dekat. Dan di Qatar, segalanya berjalan lebih baik, karena ini trek yang bagus buat kami.”
Pada titik ini, apakah Anda berpikir masih membutuhkan waktu lebih pada Ducati, atau Anda berpikir pekerjaan paling banyak adalah pada sisi engineer?
“Saya tidak menduga membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan Ducati. Saya pikir gaya balap membuka gas saat mengerem dalam cara manis dan halus akan berkerja. Saya pikir, saya hanya kehilangan beberapa kecepatan tikungan, dan akan kembali mendapatkan itu di trek lurus.”
“Semuanya benar-benar berbeda dalam setiap arti: mengerem, masuk dan keluar dari tikungan, dan lainnya. Kami sebenarnya mengubah posisi saya di atas motor. Saya belum merasa nyaman dengan ergonomi. Tombol pada setang, misalnya, cukup berbeda dan saya masih membiasakan diri. Akan menjadi proses lebih panjang dari yang diduga, tapi pastinya kami meningkat.”
Apakah proses bekerja dari Yamaha dan Ducati terlalu berbeda?
“Meskipun orang Italia berkarakter hangat, tapi Gigi (Dall’Igna, Direktur Teknis Ducati) dingin, metodis dan perfeksionis. Dia adalah campuran orang Jerman, Jepang dan Italia. Dia punya metode yang kuat dan saya pikir Ducati banyak berubah sejak kedatangannya.”
“Perbedaan utama dari Yamaha adalah bahwa Gigi pada level berbeda dibandingkan engineer lainnya, tapi Anda tidak bisa melihatnya karena dia menyatu dalam grup. Ketika pembalap masuk ke garasi dan kru lainnya berlutut untuk mendengarkan dia.”
“Di Yamaha, engineer tertinggi tidak terlalu banyak memiliki kontak dengan mereka yang bekerja di garasi. Dall’Igna jauh lebih dekat dan itu memungkinkan untuk menyelesaikan masalah secara cepat.”
Jelang berakhirnya musim dingin, Ducati akan dipenuhi engineer di garasi yang akan mengamati para pembalap?
“Itu sesuatu yang ingin saya ubah di Yamaha. Saya melihat garasi Marc dipenuhi para engineer. Saya meminta hal itu, tapi tidak pernah terealisasi. Di Ducati, mereka memperlakukan saya dengan semacam kekaguman. Di Yamaha, saya merasa seperti karyawan (biasa) lainnya.”
“Saya seharusnya dapat menjadi bagian penting dari sebuah hal (di Yamaha). Tapi di Ducati, mereka banyak menghormati dan mengagumi saya. Mereka tahu mereka merekrut saya untuk mengembangkan motor yang lebih baik dan mengambil langkah ke depan dalam hal performa.”
Bagaimana reaksi staf Ducati ketika Anda mengatakan hampir mustahil untuk memperebutkan gelar juara?
“Hal ini terjadi seperti di sepak bola. Barcelona melawan Paris Saint-Germain dan kalah 4-0, tapi tiga minggu kemudian di Camp Nou, mereka mampu menang 6-1. Itu sama di balap motor. Regulasi berubah pada 2017, winglet dilarang, lalu Honda dan Yamaha sedikit meningkat, serta para pembalap berubah sepenuhnya.”
“Ducati menang di Austria, trek yang cocok dengan motor prototipe kami. Tapi di Sepang, Ducati menang dalam kondisi basah. Keadaan berubah, maka banyak hal juga berubah. Oke, winglet dilarang, jadi kami harus menemukan cara agar performa motor baik tanpa winglet. Targetnya adalah menjadi lebih kompetitif di setiap sirkuit dan memenangi balapan sebanyak yang kami bisa.”
_dalam_hitung_mundur_motogp_2017._(foto-motogp).jpg)
Bagaimana peningkatan feeling pada Ducati sejak tes pertama di Valencia?
“Di Valencia, ada banyak hal berbeda yang membantu saya, yaitu winglet. Saya baru saja memenangi balapan terakhir dengan Yamaha. Saya dalam kondisi baik, ban Michelin terasa bagus dan layout trek tidak terlalu menuntut untuk mengerem. Semuanya berjalan baik.”
“Namun, saya sangat kesulitan di Sepang, bahkan pada hari pertama di trek yang mengejutkan saya. Lalu, saya memahami harus memacu Ducati dalam cara berbeda dibandingkan YZR-M1, sesuatu yang tidak saya duga. Di Australia, dua atau tiga pekan kemudian, saya mulai menggeber motor lagi dengan gaya Yamaha.”
“Setiap pembalap Ducati kesulitan di Phillip Island. Jika kami mengendarai motor lagi di Sepang, kami mungkin akan lebih dekat. Dan di Qatar, segalanya berjalan lebih baik, karena ini trek yang bagus buat kami.”
Pada titik ini, apakah Anda berpikir masih membutuhkan waktu lebih pada Ducati, atau Anda berpikir pekerjaan paling banyak adalah pada sisi engineer?
“Saya tidak menduga membutuhkan waktu lama untuk beradaptasi dengan Ducati. Saya pikir gaya balap membuka gas saat mengerem dalam cara manis dan halus akan berkerja. Saya pikir, saya hanya kehilangan beberapa kecepatan tikungan, dan akan kembali mendapatkan itu di trek lurus.”
“Semuanya benar-benar berbeda dalam setiap arti: mengerem, masuk dan keluar dari tikungan, dan lainnya. Kami sebenarnya mengubah posisi saya di atas motor. Saya belum merasa nyaman dengan ergonomi. Tombol pada setang, misalnya, cukup berbeda dan saya masih membiasakan diri. Akan menjadi proses lebih panjang dari yang diduga, tapi pastinya kami meningkat.”
Apakah proses bekerja dari Yamaha dan Ducati terlalu berbeda?
“Meskipun orang Italia berkarakter hangat, tapi Gigi (Dall’Igna, Direktur Teknis Ducati) dingin, metodis dan perfeksionis. Dia adalah campuran orang Jerman, Jepang dan Italia. Dia punya metode yang kuat dan saya pikir Ducati banyak berubah sejak kedatangannya.”
“Perbedaan utama dari Yamaha adalah bahwa Gigi pada level berbeda dibandingkan engineer lainnya, tapi Anda tidak bisa melihatnya karena dia menyatu dalam grup. Ketika pembalap masuk ke garasi dan kru lainnya berlutut untuk mendengarkan dia.”
“Di Yamaha, engineer tertinggi tidak terlalu banyak memiliki kontak dengan mereka yang bekerja di garasi. Dall’Igna jauh lebih dekat dan itu memungkinkan untuk menyelesaikan masalah secara cepat.”
Jelang berakhirnya musim dingin, Ducati akan dipenuhi engineer di garasi yang akan mengamati para pembalap?
“Itu sesuatu yang ingin saya ubah di Yamaha. Saya melihat garasi Marc dipenuhi para engineer. Saya meminta hal itu, tapi tidak pernah terealisasi. Di Ducati, mereka memperlakukan saya dengan semacam kekaguman. Di Yamaha, saya merasa seperti karyawan (biasa) lainnya.”
“Saya seharusnya dapat menjadi bagian penting dari sebuah hal (di Yamaha). Tapi di Ducati, mereka banyak menghormati dan mengagumi saya. Mereka tahu mereka merekrut saya untuk mengembangkan motor yang lebih baik dan mengambil langkah ke depan dalam hal performa.”
Bagaimana reaksi staf Ducati ketika Anda mengatakan hampir mustahil untuk memperebutkan gelar juara?
“Hal ini terjadi seperti di sepak bola. Barcelona melawan Paris Saint-Germain dan kalah 4-0, tapi tiga minggu kemudian di Camp Nou, mereka mampu menang 6-1. Itu sama di balap motor. Regulasi berubah pada 2017, winglet dilarang, lalu Honda dan Yamaha sedikit meningkat, serta para pembalap berubah sepenuhnya.”
“Ducati menang di Austria, trek yang cocok dengan motor prototipe kami. Tapi di Sepang, Ducati menang dalam kondisi basah. Keadaan berubah, maka banyak hal juga berubah. Oke, winglet dilarang, jadi kami harus menemukan cara agar performa motor baik tanpa winglet. Targetnya adalah menjadi lebih kompetitif di setiap sirkuit dan memenangi balapan sebanyak yang kami bisa.”
_dalam_hitung_mundur_motogp_2017._(foto-motogp).jpg)
(sbn)