Samai Rekor Rainey, Vinales 83,3% Juara MotoGP 2017
Senin, 10 April 2017 - 21:29 WIB
Samai Rekor Rainey, Vinales 83,3% Juara MotoGP 2017
A
A
A
BUENOS AIRES - Kesabaran Maverick Vinales dalam lomba, lagi-lagi membuahkan hasil gelar juara. Ya, setidaknya hal itulah yang terjadi pada dua seri pembuka MotoGP 2017, baik di Qatar 26 Maret silam maupun di Argentina, Senin (10/4) dini hari WIB.
Ya, kesabaran Vinales tidak langsung gas pol motor Yamaha YZR-M1 tunggangannya saat lomba di Sirkuit Losail, Qatar dan di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Argentina. Boleh dibilang merupakan salah satu kunci kesuksesannya meraih dua gelar seri beruntun pada awal musim ini.
_di_motogp_argentina_2017_sirkuit_termas_de_rio_hondo._(foto-yamaha)_2.jpg)
Sehubungan dengan itu, sebuah statistik terbaru yang ditulis surat kabar Marca di Madrid, Spanyol, mengatakan: Maverick Vinales sudah mengantongi 83,3% untuk menjadi juara dunia pembalap MotoGP 2017. Apa alasannya?
Fakta bilang, hanya segelintir pembalap saja yang gagal memenangkan gelar juara dunia pembalap kelas bergengsi GP usai memenangkan dua seri secara beruntun.
Dari 24 pembalap yang pernah memenangkan dua seri secara beruntun, hanya 4 saja yang gagal mengonversinya jadi juara dunia di pengujung musim. Artinya, ada 20 pembalap lain yang sukses.
Siapa saja 4 pembalap yang gagal itu? Pada 1966, Jim Redman tak bisa juara dunia usai mengalami cedera. Yang lebih parah Jarno Saarinen, karena pembalap Finlandia itu tewas pada usia 28 tahun dalam sebuah insiden kecelakaan lomba di Sirkuit Monza, Italia.
Berikutnya ada Michael ‘Mick’ Doohan yang tak bisa melanjutkan musim balap 1992 usai mengalami cedera parah dalam sebuah insiden kecelakaan di Sirkuit Assen, Belanda. Pembalap keempat yang gagal ialah Kenny Roberts Jr pada 1999. Dia tidak cedera, tapi Alex Criville yang mampu membalikkan keadaan.
Kini Vinales melakukan sesuatu yang bahkan tidak bisa dicapai oleh Valentino Rossi atau Jorge Lorenzo, dua pembalap seniornya di Yamaha yang telah mempersembahkan masing-masing empat dan tiga gelar juara dunia buat tim Garputala di kelas bergengsi.
Ya, itu karena Vinales sanggup menjuarai dua seri lomba pada awal musim kelas bergengsi secara beruntun. Prestasi tersebut terakhir kalinya dilakukan oleh Wayne Rainey, seorang legenda Yamaha lainnya pada 1990.
Ternyata, pembalap yang kini memakai kursi roda di sisa hidupnya tersebut (usai mengalami kecelakaan parah di Misano). Tercatat sebagai pembalap yang terakhir kalinya sukses menjadi juara dunia kelas bergengsi setelah memenangkan dua gelar seri beruntun di awal musim (GP Jepang dan AS).
Ya, kesabaran Vinales tidak langsung gas pol motor Yamaha YZR-M1 tunggangannya saat lomba di Sirkuit Losail, Qatar dan di Sirkuit Termas de Rio Hondo, Argentina. Boleh dibilang merupakan salah satu kunci kesuksesannya meraih dua gelar seri beruntun pada awal musim ini.
_di_motogp_argentina_2017_sirkuit_termas_de_rio_hondo._(foto-yamaha)_2.jpg)
Sehubungan dengan itu, sebuah statistik terbaru yang ditulis surat kabar Marca di Madrid, Spanyol, mengatakan: Maverick Vinales sudah mengantongi 83,3% untuk menjadi juara dunia pembalap MotoGP 2017. Apa alasannya?
Fakta bilang, hanya segelintir pembalap saja yang gagal memenangkan gelar juara dunia pembalap kelas bergengsi GP usai memenangkan dua seri secara beruntun.
Dari 24 pembalap yang pernah memenangkan dua seri secara beruntun, hanya 4 saja yang gagal mengonversinya jadi juara dunia di pengujung musim. Artinya, ada 20 pembalap lain yang sukses.
Siapa saja 4 pembalap yang gagal itu? Pada 1966, Jim Redman tak bisa juara dunia usai mengalami cedera. Yang lebih parah Jarno Saarinen, karena pembalap Finlandia itu tewas pada usia 28 tahun dalam sebuah insiden kecelakaan lomba di Sirkuit Monza, Italia.
Berikutnya ada Michael ‘Mick’ Doohan yang tak bisa melanjutkan musim balap 1992 usai mengalami cedera parah dalam sebuah insiden kecelakaan di Sirkuit Assen, Belanda. Pembalap keempat yang gagal ialah Kenny Roberts Jr pada 1999. Dia tidak cedera, tapi Alex Criville yang mampu membalikkan keadaan.
Kini Vinales melakukan sesuatu yang bahkan tidak bisa dicapai oleh Valentino Rossi atau Jorge Lorenzo, dua pembalap seniornya di Yamaha yang telah mempersembahkan masing-masing empat dan tiga gelar juara dunia buat tim Garputala di kelas bergengsi.
Ya, itu karena Vinales sanggup menjuarai dua seri lomba pada awal musim kelas bergengsi secara beruntun. Prestasi tersebut terakhir kalinya dilakukan oleh Wayne Rainey, seorang legenda Yamaha lainnya pada 1990.
Ternyata, pembalap yang kini memakai kursi roda di sisa hidupnya tersebut (usai mengalami kecelakaan parah di Misano). Tercatat sebagai pembalap yang terakhir kalinya sukses menjadi juara dunia kelas bergengsi setelah memenangkan dua gelar seri beruntun di awal musim (GP Jepang dan AS).
(sbn)