Soal Mendieta, FIFPro akan mengadu ke FIFA
Rabu, 05 Desember 2012 - 16:32 WIB
Soal Mendieta, FIFPro akan mengadu ke FIFA
A
A
A
Sindonews.com – Kasus kematian striker Persis Solo, Diego Mendieta ternyata tak hanya mengundang perhatian publik tanah air, tetapi juga mengundang perhatian dunia. Asosiasi Pesepakbola Profesional (FIFPro) bahkan menyesalkan kepergian striker asal Paraguay tersebut.
Mendieta menderita penyakit virus Cytomegalovirus hingga merambat ke bagian otak. Dia pun mengembuskan nafas terakhirnya pada senin (3/12) malam di RS Dr Moewardi, Solo.
Sebelum meninggal Mendieta dikabarkan tak memiliki biaya untuk menjalani pengobatan. Pasalnya, pihak klub belum membayar gajinya selama empat bulan yang jumlahnya mencapai dari Rp 120 juta. Namun belum diketahui apakah kepergian Mendieta karena kelalaian pihak klub yang tak memperdulikan nasib pemain berusia 32 tahun itu, atau hal lain.
"Jika berita ini benar bahwa kematian Diego Mendieta adalah sebagian karena kelalaian oleh klubnya, maka ini sangat memalukan. Ini adalah aib bagi seluruh sepak bola profesional di Indonesia," ungkap Frederique Winia, sekretaris jenderal FIFPro Divisi Asia seperti dikutip di situs resmi FIFPro
"Saya tahu banyak cerita tentang pemain yang sengaja tidak dibayar oleh klub mereka dan harus menunggu berbulan-bulan untuk gaji mereka. Tapi saya belum pernah mendengar cerita di mana pemain sakit parah dan pihak klub mengabaikan nasibnya,”ia menambahkan.
Pihak FIFPro akan melaporkan kasus Mendieta kepada Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) setelah hasil pemeriksaan kasus kematian Mendieta selesai. “Setelah kami menerima itu, maka kami akan membawa urusan menyedihkan ini agar mendapat perhatian FIFA,”ujar Winia.
FIFPro juga telah mendapatkan laporan dari Assosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) mengenai tingginya biaya pemulangan jenazah Mendieta ke Paraguay. Jika masalah tersebut belum terselesaikan maka pihak FIFPro berjanji akan membantu proses pemulangan jenazah.
Mendieta menderita penyakit virus Cytomegalovirus hingga merambat ke bagian otak. Dia pun mengembuskan nafas terakhirnya pada senin (3/12) malam di RS Dr Moewardi, Solo.
Sebelum meninggal Mendieta dikabarkan tak memiliki biaya untuk menjalani pengobatan. Pasalnya, pihak klub belum membayar gajinya selama empat bulan yang jumlahnya mencapai dari Rp 120 juta. Namun belum diketahui apakah kepergian Mendieta karena kelalaian pihak klub yang tak memperdulikan nasib pemain berusia 32 tahun itu, atau hal lain.
"Jika berita ini benar bahwa kematian Diego Mendieta adalah sebagian karena kelalaian oleh klubnya, maka ini sangat memalukan. Ini adalah aib bagi seluruh sepak bola profesional di Indonesia," ungkap Frederique Winia, sekretaris jenderal FIFPro Divisi Asia seperti dikutip di situs resmi FIFPro
"Saya tahu banyak cerita tentang pemain yang sengaja tidak dibayar oleh klub mereka dan harus menunggu berbulan-bulan untuk gaji mereka. Tapi saya belum pernah mendengar cerita di mana pemain sakit parah dan pihak klub mengabaikan nasibnya,”ia menambahkan.
Pihak FIFPro akan melaporkan kasus Mendieta kepada Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) setelah hasil pemeriksaan kasus kematian Mendieta selesai. “Setelah kami menerima itu, maka kami akan membawa urusan menyedihkan ini agar mendapat perhatian FIFA,”ujar Winia.
FIFPro juga telah mendapatkan laporan dari Assosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) mengenai tingginya biaya pemulangan jenazah Mendieta ke Paraguay. Jika masalah tersebut belum terselesaikan maka pihak FIFPro berjanji akan membantu proses pemulangan jenazah.
(wir)