Keganasan Alam Melahirkan Juara Dunia Baru Sepeda Gunung

loading...
Keganasan Alam Melahirkan Juara Dunia Baru Sepeda Gunung
Reece Wilson, juara dunia baru downhill. FOTO: redbull.com
JAKARTA - Kejuaraan dunia sepeda gunung 2020 yang berlangsung di Leogang, Austria, hari Minggu (11/10) lalu melahirkan juara-juara dunia baru. Di nomer paling bergengsi cross country putra dan downhill putra, hujan yang turun sejak sehari sebelum lomba dimulai membuat para juara bertahan tidak berkutik.

Di nomor cross country, pembalap Swiss Nino Schurter yang mengincar gelar juara dunia kedelapannya berturut-turut harus pulang dengan tangan hampa. Titel juara dunianya pun direbut oleh pembalap Prancis, Jordan Sarrou. Demikian halnya di nomer downhill, juara dunia tiga kali Loic Bruni dari Prancis harus menyerahkan mahkotanya ke pembalap Inggris, Reece Wilson.

Sedangkan di sektor putri, pembalap Prancis Pauline Ferrand Pre’vot berhasil mempertahankan titelnya sebagai juara dunia nomer cross country. Dan di nomor downhill, rider Camille Balanche muncul sebagai atlet Swiss pertama yang merebut medali emas. Ia menaklukkan juara bertahan Myriam Nicole dari Prancis yang harus puas berdiri di podium kedua.

Hujan deras sepanjang malam sebelum bendera start dikibaskan sempat memaksa panitia untuk menimbang membatalkan lomba. Bukan apa-apa, medan yang harus dilalui pembalap memang menjadi sangat licin dan berlumpur. Sangat berisiko bagi para patisipan. Tak heran jika latihan bebas sehari sebelum balapan menelan sejumlah korban. Satu diantaranya downhiller wanita dari Swiss Vali Holl yang mengalami cedera dua ligamen dan ankle-nya terkilir. Seorang pembalap putra juga mengalami patah jari tangan, namun ia memutuskan tetap bertarung. Tak salah jika para peserta menabalkan ajang kali ini sebagai kejuaraan dunia sepeda gunung terberat.



Sang juara dunia baru downhill putri Camille Balanche relatif baru di nomer ini. Dia baru tiga tahun terakhir menekuni olahraga ekstrim. Sebelumnya ia menggeluti olahraga hoki. Kunci suksesnya adalah taktik yang berbeda dengan juara bertahan Myriam Nicole maupun kandidat juara lainnya Tahnee Seagrave. Jika dua pembalap favorit juara itu menggeber sepeda di hutan berlumpur, Balanche mengendalikan sepedanya dengan sangat hati-hati. Alhasil, ia menjadi pembalap pertama yang sukses melalui turunan becek dan berakar tanpa jatuh. Keberhasilan itu mengantarkannya menyentuh garis finis lebih cepat tiga detik dari Nicole. Ia pun berhak mengenakan jersi pelangi, simbol juara dunia.

Di nomor downhill putra, Reece Wilson, menggunakan taktik serupa dengan Balanche. Ia melintasi hutan berlumpur dengan sangat berhati-hati agar tak terjungkal. Sukses melalui medan terberat ia lantas tinggal menjaga kedua kakinya agar tetap menempel di pedal untuk melaju ke garis finis. Taktik ini membuatnya unggul tujuh detik dari saingan terdekatnya, Jack Moir dari Australia.

Lantas kemana larinya para jawara downhill dunia? Mantan juara dunia Aaron Gwin hanya menduduki posisi 26, Danny Hart si jagoan medan licin, juga pembalap senior Troy Brosnan gagal menaklukkan bagian terberat dari lintasan di Leogang. Juara bertahan tiga kali berturut-turut Loic Bruni sami mawon. Ia juga tak kuasa menjaga keseimbangan di lintasan berlumpur itu. Mengetahui tak satu pun pembalap yang bisa melampaui catatan waktunya, Wilson baru sadar dirinya telah menjadi juara dunia baru. Ia tak dapat menahan emosinya. “Saya tak percaya, meski saya telah berjuang keras untuk ini,” sahutnya seperti dikutip Red Bull.
(rza)
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top