Balotelli merasa tersiksa di Inggris
Sabtu, 02 Februari 2013 - 09:56 WIB
Balotelli merasa tersiksa di Inggris
A
A
A
Sindonews.com – Bisa meninggalkan Inggris setelah hengkang dari Manchester City dan kembali ke kampung halamannya di Italia bersama AC Milan seakan membuat Mario Balotelli lepas dari siksaan. Ya, Balotelli merasa tersiksa selama menjalani kehidupannya di Inggris.
Balotelli bergabung dengan Milan setelah dibeli seharga 30 juta euro dengan kontrak selama empat tahun.
Dia menilai selama dua setengah tahun di Inggris, tidak melihat ada hal-hal baik di sana, kecuali suporter dan rekan-rekan setimnya yang selalu mendukungnya.
“Saya harus mengucapkan terima kasih kepada semua fans City karena mereka sangat baik kepada saya dan mereka selalu mendukung saya dalam momen bagus atau buruk. Dan saya harus berterima kasih kepada rekan saya dan pelatih," ujar Balotelli menjelaskan ketika pertama kali diperkenalkan dalam jumpa pers, seperti dikutip theage, Sabtu (2/2/2013)
"Selain itu semua, saya gembira meninggalkan Inggris.”
Dia merasa media, makanan dan cuaca Inggris sangatlah buruk. “Hal baiknya hanyalah ketika saya menuju Carrington untuk berlatih. Jadi rekan dan pelatih. Dan hal buruk? Semua selain itu.
Meski tidak nyaman dengan kehidupannya di Inggris, dia merasa nanti akan merindukan persaingan di Liga Premier Inggris.
“Jujur saya, Liga Premier adalah kompetisi yang menakjubkan dan saya rasa yang terbaik.”
Balotelli bergabung dengan Milan setelah dibeli seharga 30 juta euro dengan kontrak selama empat tahun.
Dia menilai selama dua setengah tahun di Inggris, tidak melihat ada hal-hal baik di sana, kecuali suporter dan rekan-rekan setimnya yang selalu mendukungnya.
“Saya harus mengucapkan terima kasih kepada semua fans City karena mereka sangat baik kepada saya dan mereka selalu mendukung saya dalam momen bagus atau buruk. Dan saya harus berterima kasih kepada rekan saya dan pelatih," ujar Balotelli menjelaskan ketika pertama kali diperkenalkan dalam jumpa pers, seperti dikutip theage, Sabtu (2/2/2013)
"Selain itu semua, saya gembira meninggalkan Inggris.”
Dia merasa media, makanan dan cuaca Inggris sangatlah buruk. “Hal baiknya hanyalah ketika saya menuju Carrington untuk berlatih. Jadi rekan dan pelatih. Dan hal buruk? Semua selain itu.
Meski tidak nyaman dengan kehidupannya di Inggris, dia merasa nanti akan merindukan persaingan di Liga Premier Inggris.
“Jujur saya, Liga Premier adalah kompetisi yang menakjubkan dan saya rasa yang terbaik.”
(aww)