Terdampak Covid-19, Lima Toko Penjualan Merchandise Olimpiade Ditutup

Jum'at, 15 Mei 2020 - 11:30 WIB
Panitia telah menganggarkan pendapatan sekitar USD100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun dari penjualan aksesori Olimpiade. Ini adalah bagian kecil dari anggaran operasi yang dibiayai swasta sebesar USD 5,6 miliar (Rp83,5 triliun). Jumlah pendapatan terbesar adalah dari sponsor lokal yang membayar USD3,3 miliar (Rp 49,2 triliun) untuk menjadi bagian dari Olimpiade.

Secara keseluruhan, Jepang menyatakan akan menghabiskan USD12,6 miliar (Rp187 triliun) untuk menyelenggarakan Olimpiade, meskipun audit nasional mengatakan jumlahnya akan membengkak dua kali lipat. Seluruhnya menggunakan uang publik kecuali untuk anggaran operasi USD5,6 miliar.

Sementara penyelenggara mengatakan sekitar 5.500 produk sedang dijual di toko-toko "berlisensi", yang berupa topi, t-shirt, dan bahkan sumpit yang semuanya membawa logo resmi, Tokyo dan Olimpiade. Namun, Takaya mengatakan beberapa produk tidak semuanya dibuat di Jepang. Banyak produk, termasuk maskot boneka binatang - Miraitowa untuk Olimpiade dan Someity for the Paralympics, berlabel bertuliskan buatan China atau Vietnam. (Baca juga: Penundaan Olimpiade Membuat Jepang Terbebani Masalah Keuangan)

"Tokyo 2020 tidak memiliki jumlah agregat dalam hal berapa banyak produk yang dibuat di Jepang atau di luar Jepang. Panitia Tokyo memiliki kontrak dengan pemasok yang sebagian besar bebas untuk mencari produk di mana mereka inginkan," ungkapnya.

Olimpiade 2020 dijadwal ulang karena kasus virus korona yang terus meningkat di seluruh dunia. Nantinya, Olimpiade akan berlangsung dari 23 Juli hingga 8 Agustus 2021, sedangkan Paralimpiade akan digelar pada 24 Agustus hingga 5 September. (Raikhul Amar)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!