alexa snippet

MotoGP 2017

Mereka Mesti Jilat Ludah Sendiri, Ini Lebih dari Menang Bersama Yamaha

Mereka Mesti Jilat Ludah Sendiri, Ini Lebih dari Menang Bersama Yamaha
Jorge Lorenzo bersama kru tim Ducati merayakan finis podium ketiga MotoGP Jerez 2017. (Foto/JL99)
A+ A-
JEREZ - Raihan finis ketiga di MotoGP Jerez 2017 menjadi kado mengejutkan sekaligus terbaik bagi Jorge Lorenzo dari empat balapan awalnya bersama tim baru di kelas bergengsi musim ini. Tak hanya itu saja, keberhasilan naik podium juga menjawab segala kritikan, bahwa ia akan kesulitan bersama Ducati.

Ya, hanya dalam empat balapan, pembalap Spanyol itu berhasil finis di podium MotoGP Jerez 2017, Minggu (7/5). Tentu banyak yang tak mengira, tapi performa Lorenzo memang solid selama sesi latihan, walaupun hasil kualifikasi menempatkannya di posisi start kedelapan.

Sepanjang 27 lap, Lorenzo berhasil menyalip Jack Miller dan mantan rekan setimnya, Valentino Rossi, plus penggantinya di tim Yamaha, Maverick Vinales. Posisi ketiga lalu direbutnya ketika menyalip rookie tim Yamaha Tech 3, Johann Zarco, pada Lap 12.

“Kado terbaik yang pernah ada. Tidak ada yang lebih baik dari kado terbaik untuk ulang tahun ke-30. Ini lebih dari kemenangan bersama Yamaha, karena semua orang tahu bagaimana sulitnya kami untuk kompetitif di trek kering dan di trek seperti Jerez dalam beberapa tahun terakhir,” sembur Lorenzo dalam jumpa pers seperti dilaporkan Motorsport.

“Jerez adalah salah satu trek favorit saya. Kami sudah cukup kuat dalam semua sesi sepanjang akhir pekan, terlepas dari kualifikasi yang mana kami sedikit kesulitan. Jadi, saya tahu punya kecepatan untuk bertarung. Mungkin bukan untuk podium, tapi posisi kelima atau keenam,” beber Lorenzo yang merayakan ulang tahun ke-30 pada Kamis (4/5/2017).
Tim Ducati merayakan ulang tahun ke-30 Jorge Lorenzo di MotoGP Jerez 2017. (Foto-JL99)
Ia kemudian melanjutkan penjelasannya: “Lalu, tanpa diduga, saya mulai menyalip para pembalap lain. Race pace cukup lambat karena cuaca panas. Saya bisa menyalip sedikit demi sedikit dan bertahan di belakang Zarco. Ketika saya menyalip dia, sulit untuk menjauh. Pada lap terakhir, mungkin karena ban sedikit lebih baik, saya bisa menjauh, serta menikmati hasil yang sangat bagus bagi saya dan tim.”

Tentu saja, ketimbang dengan hasil balapan di tiga lomba sebelumnya (Qatar, Argentina dan Austin), raihan di Jerez jelas peningkatan pesat bagi Lorenzo. Ketika ditanya apa faktor di balik keberhasilan naik podium ini, ia menjawab berkat kombinasi dari banyak hal.

Pastinya, podium ketiga MotoGP Jerez 2017 merupakan jawaban atas kritikan semua pihak, terutama mereka yang telah meragukan kemampuan dan mentalitas Lorenzo sebagai salah satu pembalap hebat di kelas bergengsi satu dekade belakangan.

“Seperti yang saya katakan sebelumnya, ini kombinasi dari banyak hal. Saya membutuhkan banyak kilometer dengan motor ini, karena ini adalah motor yang istimewa. Ketika saya debut di MotoGP pada 2008, saya langsung cepat karena motor seperti dibuat untuk gaya balap saya,” terangnya.

“Tapi Anda tahu, butuh waktu lama bagi saya untuk memahami hal-hal tertentu di kategori lain dan dengan motor ini sama saja bukan? Anda jangan meragukan tentang gaya balap dan mentalitas saya. (Karena) beberapa orang melakukan itu,” imbuhnya.

Pembalap juara dunia kelas bergengsi tiga kali bersama Yamaha itu menambahkan: “Mereka berbicara terlalu awal dan akhirnya mereka harus menjilat ludah sendiri. Anda tidak boleh meragukan setiap pembalap di kejuaraan ini, karena semua pembalap yang datang sangat bagus dan bisa berada di depan, terutama pembalap yang telah memenangi banyak balapan dan gelar juara (seperti saya).”

Sementara itu, kendati telah berhasil membawa Ducati naik podium di MotoGP Jerez 2017, Lorenzo mengaku masih terus beradaptasi dengan tunggangannya, Desmosedici GP17. Ia perlu untuk membiasakan diri akan penggunanaan rem belakang dan gaya balap yang lebih alami.

“Saya merasa belum alami memakai rem belakang. Tapi setiap lap yang saya tempuh terasa lebih alami. Cepat atau lambat, saya akan menjadi alami mengendarai motor seperti ini, karena selama sembilan tahun terakhir tidak memakai rem belakang dan tidak sliding ketika masuk tikungan,” ujarnya.

“Saya perlu membiasakan diri untuk memakai rem belakang sampai mungkin motor berubah. Dan mungkin jika motor berubah, saya akan tetap memakainya. Anda harus selalu mencari cara untuk memaksimalkan (potensi) motor, dan setiap motor menuntut cara yang berbeda untuk menjadi kompetitif,” tandasnya.



(sbn)
loading gif
Top